Dinsdag 05 Maart 2013

          Mmmmmmm..Tau Gak sih Ternyata Upacara Tumpe itu  merupakan Upacara Adat yang seharusnya  dilaksanakan setiap tahun Lohh.... kalau tidak maka akan ada terjadi suatu bencana itu sih kata mereka.setiap bulan September dimana musim pertama bertelurnya burung Maleo, yakni,  burung Sulawesi yang hidup di kawasan Bakiriang ini, Kecamatan Batui.Upacara Molabot Tumpe dilaksanakan oleh masyarakat Kota Banggai (Kabupaten Banggai Kepulauan) dan masyarakat Kecamatan Batui (Kabupaten Banggai). Upacara Molabot Tumpe merupakan rangkaian Adat Istiadat Kerajaan Banggai masa lampau yang punya pertalaian sejarah dengan  berdirinya Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan.

         di sini saya sebagai pendatang di gorontalo ingin bercerita sedikit tentag kebudayaan saya yang di banggai, yang kami lakukan atau laksanakan  setiap tahunnya.upacara ini diawali dengan pengumpulan telur burung Maleo oleh perangkat Adat Batui sebanyak 160 butir. Setelah itu telur dikumpulkan di Rumah Ketua Adat,kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan perahu dan pengantar telur Maleo sebanyak 7 orang yang terdiri 3 orang dari Tua-Tua Adat dan 4 orang pendayung. Sebelum diberangkatkan ke Banggai, telur Maleo akan dibungkus dengan daun Komunong atau sejenis Daun Palma githu..
  
        konon sih katannya yah meski keberangkatan pengantar telur burung Maleo dari Batui ke Banggai tidak dikabarkan terlebih dahulu tapy orang Adat di Kota Banggai kepulauan sudah mengetahui tentang rencana kedatangan rombongan pembawa telur burung Maleo dari Batui.Biasanya sih orang  Banggai yang sudah tahu tentang rencana kedatangan kami dari Batui untuk mengantarkan telur Maleo ini , langsung membuat persiapan seperlunya di Banggai, diantaranya seperti dengan membuat persiapan penyambutan di Pelabuhan Banggai. persiapan pengantaran telur ke rumah Jogugu, melakukan pembersihan rumah Keramat di Boneaka dan Banggai Lalongo, serta penentuan pembagian telur.Pemberangkatan rombongan pengantar telur Maleo dari Batui ke Banggai, dimulai dengan rombongan menjemput telur Maleo yang telah dipersiapkan ke rumah Ketua Adat. Ketika akan menuju ke pelabuhan, rombongan diarak dengan iringan tetabuhan gong dan gendang...hehehhee Luchu jga.....

         Pengiriman telur ke Banggai  atau di Banggai Kepulauan inilah yang dikenal dengan adat tumpe’. Setiap tahunnya  adat tumpe’ ini dihelat di Batui. Batui sebagai daerah pengantar telur maleo dan Banggai Kepulauan sebagai daerah penerima telur maleo tersebut kami sebagai . Orang Batui percaya, apabila telur burung maleo ini tak diantar ke Banggai Kepulauan, maka musibah akan turun di Batui.Adat tumpe ini harus digelar setiap tahunnya, nah waktu akhir tahun ini saya sempat ikut upacaranya yang di lakukan di batui.jika tidak kami di Batui akan terkena musibah, musibah itu rupa-rupa, kalau bukan gagal panen, kemarau panjang, wabah penyakit atau warga akan mengalami kecelakaan.
        
         Dalam perjalanan dari Batui ke Banggai, rombongan pengantar harus mampir di desa Tolo, yaitu salah satu desa yang ada di Pulau  Peling, guna mengganti daun pembungkus telur Maleo. Dari Tolo rombongan kemudian menyeberang ke Pulau Banggai. Meski sudah sampai di Banggai, rombongan pengantar telur Maleo tidak boleh langsung masuk ke Pelabuhan Banggai Lohh katanya sih harus ada Syaratnya, saat rombongan sudah mendekati pelabuhan Banggai, perahu harus didayung ke arah Banggai Lalongo sampai Banggai, berputar 3 kali (PP). Artinya 3 kali ke Banggai Lalongo dan 3 kali ke Banggai, setelah itu baru dehh perahu boleh memasuki Pelabuhan Banggai. Tiba di Pelabuhan Banggai, ketua rombongan langsung melapor kepada Jogugu sebagai pemangku Adat di Banggai.Setelah melapor, ketua rombongan akan kembali ke pelabuhan untuk memimpin rombongan mengantar telur burung Maleo ke rumah Jogugu. Di kediamannya Jogugu beserta Tua-Tua Adat sudah menanti untuk menerima telur Maleo itu.

          Selama dua malam telur maleo disimpan di rumah Jogugu. Hari ketiga diadakanlah pembagian telur. Untuk Pemangku Adat Putal mendapat  40 butir, Pemangku Adat Boneaka 40 butir, Pemangku Adat Boniton 40 butir, Bagi  bangsa (Komisi Empat) 20 butir, sewa rumah Jogugu 10 butir, dan rombongan pengantar 10 butir. Bagi Pemangku Adat Putal, Boneaka dan  Boniton telur tersebut masih harus disimpan 2 malam. Pada hari ketiga barulah telur dibagi-bagikan kepada keluarga dan masyarakat. Bagi masyarakat Batui belum boleh memakan telur burung Maleo sebelum / selama telur tersebut belum  di antar ke Banggai.

     terus katanya sih bila ada masyarakat Batui yang melanggar ketentuan, biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya sakit. Dan bila itu terjadi dan kebetulan kulit telur Maleo jatuh ke sungai atau ke laut, maka kulit tersebut akan hanyut sampai ke Banggai. Kejadian itu lazimnya akan mendatangkan hujan deras dan angin kencang...


1 opmerking:

  1. Disini lebih lengkap ceritanya ya, sempat buat artikel upacara tumpe tp bagian pengantaran belum sedetail ini. Terima kasih banyak infonya ya, salam kenal

    AntwoordVee uit