Mmmmmmm..Tau Gak sih Ternyata Upacara Tumpe itu merupakan Upacara Adat yang seharusnya
dilaksanakan setiap tahun Lohh.... kalau tidak maka akan ada terjadi suatu bencana
itu sih kata mereka.setiap bulan September dimana musim pertama bertelurnya
burung Maleo, yakni, burung Sulawesi yang hidup di kawasan Bakiriang ini,
Kecamatan Batui.Upacara Molabot
Tumpe dilaksanakan oleh masyarakat Kota Banggai (Kabupaten Banggai Kepulauan)
dan masyarakat Kecamatan Batui (Kabupaten Banggai). Upacara Molabot Tumpe
merupakan rangkaian Adat Istiadat Kerajaan Banggai masa lampau yang punya
pertalaian sejarah dengan berdirinya Kabupaten Banggai dan Banggai
Kepulauan.
di
sini saya sebagai pendatang di gorontalo ingin bercerita sedikit tentag
kebudayaan saya yang di banggai, yang kami lakukan atau laksanakan setiap tahunnya.upacara ini diawali dengan
pengumpulan telur burung Maleo oleh perangkat Adat Batui sebanyak 160 butir.
Setelah itu telur dikumpulkan di Rumah Ketua Adat,kemudian dilanjutkan dengan
menyiapkan perahu dan pengantar telur Maleo sebanyak 7 orang yang terdiri 3
orang dari Tua-Tua Adat dan 4 orang pendayung. Sebelum diberangkatkan ke
Banggai, telur Maleo akan dibungkus dengan daun Komunong atau sejenis Daun
Palma githu..
konon
sih katannya yah meski keberangkatan pengantar telur burung Maleo dari Batui ke
Banggai tidak dikabarkan terlebih dahulu tapy orang Adat di Kota Banggai kepulauan
sudah mengetahui tentang rencana kedatangan rombongan pembawa telur burung Maleo
dari Batui.Biasanya sih orang Banggai
yang sudah tahu tentang rencana kedatangan kami dari Batui untuk
mengantarkan telur Maleo ini , langsung membuat persiapan seperlunya di Banggai,
diantaranya seperti dengan membuat persiapan penyambutan di Pelabuhan Banggai.
persiapan pengantaran telur ke rumah Jogugu, melakukan pembersihan rumah
Keramat di Boneaka dan Banggai Lalongo, serta penentuan pembagian
telur.Pemberangkatan rombongan pengantar telur Maleo dari Batui ke Banggai,
dimulai dengan rombongan menjemput telur Maleo yang telah dipersiapkan ke rumah
Ketua Adat. Ketika akan menuju ke pelabuhan, rombongan diarak dengan iringan
tetabuhan gong dan gendang...hehehhee Luchu jga.....
Pengiriman telur ke Banggai atau di Banggai Kepulauan inilah yang dikenal
dengan adat tumpe’. Setiap tahunnya adat
tumpe’ ini dihelat di Batui. Batui sebagai daerah pengantar telur maleo dan
Banggai Kepulauan sebagai daerah penerima telur maleo tersebut kami sebagai .
Orang Batui percaya, apabila telur burung maleo ini tak diantar ke Banggai
Kepulauan, maka musibah akan turun di Batui.Adat tumpe ini harus digelar setiap
tahunnya, nah waktu akhir tahun ini saya sempat ikut upacaranya yang di lakukan
di batui.jika tidak kami di Batui akan terkena musibah, musibah itu rupa-rupa,
kalau bukan gagal panen, kemarau panjang, wabah penyakit atau warga akan
mengalami kecelakaan.
Dalam
perjalanan dari Batui ke Banggai, rombongan pengantar harus mampir di desa
Tolo, yaitu salah satu desa yang ada di Pulau Peling, guna mengganti daun
pembungkus telur Maleo. Dari Tolo rombongan kemudian menyeberang ke Pulau
Banggai. Meski sudah sampai di Banggai, rombongan pengantar telur Maleo tidak
boleh langsung masuk ke Pelabuhan Banggai Lohh katanya sih harus ada Syaratnya,
saat rombongan sudah mendekati pelabuhan Banggai, perahu harus didayung ke arah
Banggai Lalongo sampai Banggai, berputar 3 kali (PP). Artinya 3 kali ke Banggai
Lalongo dan 3 kali ke Banggai, setelah itu baru dehh perahu boleh memasuki
Pelabuhan Banggai. Tiba di Pelabuhan Banggai, ketua rombongan langsung melapor
kepada Jogugu sebagai pemangku Adat di Banggai.Setelah melapor, ketua rombongan
akan kembali ke pelabuhan untuk memimpin rombongan mengantar telur burung Maleo
ke rumah Jogugu. Di kediamannya Jogugu beserta Tua-Tua Adat sudah menanti untuk
menerima telur Maleo itu.
Selama
dua malam telur maleo disimpan di rumah Jogugu. Hari ketiga diadakanlah
pembagian telur. Untuk Pemangku Adat Putal mendapat 40 butir, Pemangku
Adat Boneaka 40 butir, Pemangku Adat Boniton 40 butir, Bagi bangsa (Komisi Empat)
20 butir, sewa rumah Jogugu 10 butir, dan rombongan pengantar 10 butir. Bagi
Pemangku Adat Putal, Boneaka dan Boniton telur tersebut masih harus
disimpan 2 malam. Pada hari ketiga barulah telur dibagi-bagikan kepada keluarga
dan masyarakat. Bagi masyarakat Batui belum boleh memakan telur burung Maleo
sebelum / selama telur tersebut belum di antar ke Banggai.
terus
katanya sih bila ada masyarakat Batui yang melanggar ketentuan, biasanya akan
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya sakit. Dan bila itu terjadi dan
kebetulan kulit telur Maleo jatuh ke sungai atau ke laut, maka kulit tersebut
akan hanyut sampai ke Banggai. Kejadian itu lazimnya akan mendatangkan hujan
deras dan angin kencang...
Disini lebih lengkap ceritanya ya, sempat buat artikel upacara tumpe tp bagian pengantaran belum sedetail ini. Terima kasih banyak infonya ya, salam kenal
AntwoordVee uit